Tuduhan tersebut berakar pada tahun 2011, ketika sebuah kantor berita Libya dan mantan diktator Libya Moammar Gadhafi mengatakan negara Libya secara diam-diam telah menyalurkan jutaan euro ke dalam kampanye Sarkozy tahun 2007.
Pada tahun 2012, media investigasi Prancis, Mediapart, menerbitkan apa yang disebutnya sebagai memo intelijen Libya yang merujuk pada perjanjian pendanaan senilai 50 juta euro. Sarkozy mengecam dokumen tersebut sebagai pemalsuan dan menggugat atas pencemaran nama baik. Pengadilan memutuskan pada hari Kamis bahwa "sekarang tampaknya dokumen ini kemungkinan besar palsu."
Para penyelidik juga menyelidiki serangkaian perjalanan ke Libya yang dilakukan oleh orang-orang dekat Sarkozy ketika ia menjabat sebagai menteri dalam negeri dari tahun 2005 hingga 2007, termasuk kepala stafnya.
Pada tahun 2016, pengusaha Prancis-Lebanon, Ziad Takieddine, mengatakan kepada Mediapart bahwa ia telah mengirimkan koper-koper berisi uang tunai dari Tripoli ke Kementerian Dalam Negeri Prancis di bawah Sarkozy. Ia kemudian mencabut pernyataannya.
Pembalikan tersebut kini menjadi fokus investigasi terpisah terkait kemungkinan manipulasi saksi. Baik Sarkozy maupun istrinya telah didakwa awal atas keterlibatan mereka dalam dugaan upaya menekan Takieddine. Kasus tersebut belum disidangkan.
Takieddine, salah satu terdakwa, meninggal dunia pada hari Selasa di Beirut. Ia berusia 75 tahun. Ia melarikan diri ke Lebanon pada tahun 2020 dan tidak menghadiri persidangan.
Jaksa menduga Sarkozy secara sadar mendapatkan keuntungan dari apa yang mereka sebut sebagai “perjanjian korupsi” dengan pemerintahan Gaddafi.
Diktator yang berkuasa lama itu digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan tahun 2011, mengakhiri kekuasaannya selama empat dekade di negara Afrika Utara itu.
Post a Comment