Bagaimana Chimamanda Ngozi Adichie berjuang melawan hambatan kreatif dan depresi

 


Bahkan suara-suara yang paling terkenal pun bisa bungkam. Bagi Chimamanda Ngozi Adichie, penulis ternama "Purple Hibiscus ," " Americanah," dan " Half of a Yellow Sun," kebungkaman itu berlangsung selama bertahun-tahun — periode yang ditandai oleh depresi, keraguan diri, dan perasaan gelisah bahwa kisah-kisah yang seharusnya ia ceritakan telah terkunci.


Novel terbarunya, "Dream Count", yang pertama dalam lebih dari satu dekade, menandai kembalinya yang gemilang ke dunia fiksi dan kelahiran kembali yang sangat personal. Namun, untuk mencapai titik ini, ia harus mengarungi salah satu babak tersulit dalam hidupnya.


"Selama bertahun-tahun saya tidak bisa menulis, saya berjuang melawan depresi," ujar Adichie kepada CNN. "Tidak bisa menulis fiksi padahal fiksi adalah hal yang sangat saya cintai — rasanya sungguh menyedihkan."


Penulis Nigeria berusia 47 tahun ini menghadapi hambatan penulisan yang parah, dipicu oleh kesulitan pribadi — termasuk penculikan ayahnya pada tahun 2015, kehilangan kedua orang tua, dan tuntutan menjadi ibu — yang membuat penulisan fiksi, saluran kreatif utamanya, hampir mustahil.


Ia mencoba mengalihkan perhatiannya, mengiyakan lebih banyak tawaran berbicara daripada biasanya, berharap inspirasi akan datang di perjalanan. Namun, itu tidak terjadi. Ia pulang dengan perasaan "menyedihkan".


Puisi menjadi penyelamatnya selama masa ini. Ia membenamkan diri dalam puisi, percaya bahwa bahasa dan musikalitasnya yang murni akan membuatnya tetap terhubung dengan seni tersebut.


"Saya membaca lebih banyak puisi selama periode itu karena menurut saya puisi sangat membantu perkembangan bahasa," jelasnya. "Puisi membuat saya tetap mengikuti ritme menulis."


Kini, Adichie kembali dengan "Dream Count", sebuah eksplorasi lembut dan lugas tentang kehidupan empat perempuan Afrika yang saling terkait: Chiamaka, Zikora, Kadiatou, dan Omelogor. Berlatar belakang pandemi Covid-19 yang mengisolasi, novel ini sarat dengan duka pribadi, yang sebagian dibentuk oleh kehilangan kedua orang tuanya yang memilukan. Ayahnya meninggal karena gagal ginjal pada Juni 2020, dan ibunya kurang dari setahun kemudian – penyebab kematiannya tidak pernah dipublikasikan.


Adichie menggambarkan novel ini sebagai sebuah perubahan dari karya-karyanya sebelumnya. Gaya penulisan "Purple Hibiscus" yang sangat ringkas dan cerpen-cerpen awalnya telah memberi jalan bagi sesuatu yang lebih luas dan memanjakan. "Saya rasa kalimat-kalimat saya lebih panjang. Saya lebih bersedia untuk sedikit memanjakan diri. Hidup ini begitu singkat — serahkan segalanya, maksimalisme! Kita tidak tahu apakah kita masih punya hari esok, jadi lakukanlah semuanya sekarang," ujarnya. Kecintaannya yang kembali menyala pada puisi menanamkan kualitas liris pada novel ini yang menandai fase baru dalam suara kreatifnya.


"Ketika kata-kata itu akhirnya kembali," renungnya, "kata-kata itu muncul dengan suara yang baru." Suara itu, yang dulu dikhawatirkan hilang, telah kembali dengan vitalitas yang baru. Kini, dengan bukunya yang telah terbit, Adichie berbicara dengan penuh rasa syukur — atas penyelesaiannya, atas para pembaca yang telah menerimanya, dan atas penemuan kembali jati dirinya yang kreatif. "Diri saya yang sesungguhnya adalah diri yang menulis fiksi," ujarnya. "Saya bersyukur ia telah kembali."


Perjalanannya menawarkan peringatan sekaligus penghiburan bagi sesama insan kreatif. Peringatannya: kekeringan kreativitas bisa sangat menyakitkan secara emosional, dan berpura-pura sebaliknya tidak akan membantu siapa pun. Penghiburannya: pemulihan itu mungkin, dan karya akan kembali pada waktunya. Nasihatnya pragmatis namun penuh harapan: "Tanggung jawab utama kita adalah berkarya. Sekalipun sulit, teruslah berkarya. Kita tidak boleh putus asa."


Bagi Adichie, peluncuran "Dream Count" lebih dari sekadar peluncuran buku biasa — ini adalah sebuah penemuan jati diri. Dan bagi siapa pun yang sedang menjalani masa kesunyian mereka sendiri, kisahnya menjadi pengingat bahwa bahkan dalam kegelapan, benih-benih karya baru dapat berakar, menunggu saat yang tepat untuk mekar.

Post a Comment

Previous Post Next Post