Sementara itu, kementerian kesehatan di Gaza mengatakan pada hari Selasa bahwa lebih dari 60.000 warga Palestina telah tewas di wilayah tersebut sejak perang Israel melawan Hamas dimulai hampir dua tahun lalu.
Kementerian melaporkan bahwa 113 orang tewas dalam 24 jam terakhir, sehingga jumlah kematian menjadi 60.034.
Pengumuman itu muncul saat harapan akan terjadinya gencatan senjata dalam waktu dekat memudar, setelah perundingan terhenti minggu lalu tanpa kesepakatan.
Perang dimulai setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan sekitar 250 orang lainnya disandera.
Pihak berwenang di Gaza tidak membedakan antara warga sipil dan pejuang Hamas dalam melaporkan jumlah korban, tetapi Kementerian Kesehatan dan PBB menyatakan mayoritas korban tewas adalah perempuan dan anak-anak. Jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, dengan ribuan orang diyakini masih terkubur di bawah reruntuhan.
Israel tidak membantah bahwa sejumlah besar warga sipil Palestina telah tewas dalam perang di Gaza. Namun, Israel telah lama berargumen bahwa angka-angka dari Kementerian Kesehatan yang dikendalikan Hamas dibesar-besarkan, dan bahwa Hamas menempatkan diri di antara warga sipil, menggunakan mereka sebagai "perisai manusia".
Pada hari Senin, dua kelompok hak asasi manusia terkemuka Israel menuduh Israel "melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza," dan menjadi organisasi pertama yang membuat klaim tersebut.
B'Tselem mengatakan pihaknya sampai pada "kesimpulan tegas" tersebut setelah "memeriksa kebijakan Israel di Jalur Gaza dan dampak buruknya, serta pernyataan para politisi senior dan komandan militer Israel tentang tujuan serangan tersebut."
Kelompok Israel kedua, Dokter untuk Hak Asasi Manusia Israel (PHRI) , mengumumkan bergabung dengan B'Tselem dalam menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida. PHRI menerbitkan analisis hukum dan medis terpisah yang mendokumentasikan apa yang disebutnya "pemusnahan yang disengaja dan sistematis terhadap sistem kesehatan di Gaza."
Juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, membantah laporan tersebut. "Kami memiliki kebebasan berbicara di negara ini, tetapi kami dengan tegas menolak klaim tersebut," ujarnya kepada para wartawan, seraya menambahkan bahwa Israel telah mengizinkan bantuan masuk ke Gaza.
Post a Comment