Dari Lagos hingga Grammy, penyanyi-penulis lagu Nigeria, Tems, telah menaklukkan panggung dunia tanpa mengorbankan jati dirinya. "Keaslian adalah segalanya bagi saya," ujarnya. "Itulah satu hal yang tidak bisa saya kompromikan karena hanya itu yang saya miliki — jati diri saya yang sebenarnya."
Ketika Tems melangkah ke panggung di Stadion MetLife New York untuk pertunjukan paruh waktu Piala Dunia Antarklub FIFA bulan Juli lalu, dunia sedang menyaksikannya. Penyanyi berusia 30 tahun itu mengakui bahwa tampil di hadapan jutaan penonton global sangat menegangkan. Namun, ia mengenang momen itu dengan penuh rasa syukur. "Merupakan suatu kehormatan bisa berada di sana," ujarnya.
Bagi sebagian orang, penampilannya merupakan perkenalan pertama mereka dengan bintang pop penuh perasaan yang telah menjadi salah satu ekspor budaya paling terkenal di Afrika. Bagi banyak lainnya, penampilan ini merupakan konfirmasi atas apa yang telah mereka ketahui: Tems sedang menulis ulang aturan musik global.
Lahir dengan nama Temilade Openiyi di Lagos, Nigeria, ia mulai menulis lagu sejak usia muda, belajar sendiri memproduksi musik ketika hanya sedikit yang mau memberinya kesempatan. "Sangat sulit membuat orang menganggap saya serius — bukan hanya sebagai produser, tetapi juga sebagai penyanyi, titik," kenangnya. "Saya merasa tidak aman, tidak merasa diperhatikan, dan tidak merasa didukung untuk waktu yang sangat lama." Perjuangan-perjuangan awal itu tidak membuatnya patah semangat: justru menjadi bahan bakarnya.
Bangkit menuju ketenaran
Kegigihan itulah yang mendorongnya melejit menjadi superstar. Tems berkolaborasi dengan Wizkid dalam lagu "Essence" pada tahun 2020, yang menjadi lagu Nigeria pertama yang masuk tangga lagu Billboard Hot 100. Pada tahun 2022, Tems kembali mengukir sejarah ketika cuplikan vokal dari lagunya "Higher" digunakan dalam lagu Future dan Drake yang memenangkan Grammy, "Wait for U," yang debut di No. 1 di tangga lagu yang sama — sebuah pencapaian baru bagi orang Nigeria. Single-nya sendiri, "Free Mind", merajai tangga lagu AS, sementara suara dan liriknya juga muncul di lagu "Move" milik Beyoncé dan "Lift Me Up" milik Rihanna.
Pada tahun 2025, ia mengukuhkan posisinya di kalangan elite musik dengan memenangkan Grammy untuk Penampilan Musik Afrika Terbaik untuk "Love Me JeJe," sebuah interpretasi ulang dari lagu klasik Nigeria.
Meskipun kariernya melejit pesat, Tems menegaskan bahwa ketenaran bukanlah tujuan utamanya. "Saya tidak berpikir, apakah ini berhasil atau tidak? Saya hanya berpikir, ya sudahlah, saya akan menjadi diri saya sendiri. Kalau menjadi diri saya sendiri membawa saya ke bawah jembatan, keren. Kalau itu membawa saya ke puncak gunung, keren."
Keasliannya yang tak kenal takut telah menjadi ciri khasnya.
Dan kini, ia menyalurkan keyakinan itu ke dalam sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Pada bulan Agustus, Tems meluncurkan Leading Vibe Initiative , sebuah platform bimbingan dan pelatihan yang dirancang untuk mendukung perempuan di dunia musik. Inisiatif ini berharap dapat membentuk kembali industri yang seringkali mengesampingkan bakat perempuan. "Ada begitu banyak perempuan berbakat yang bisa menjadi produser, manajer, teknisi audio — tetapi mereka bahkan tidak terlihat," ujarnya. "Jadi, saya ingin membuat mereka terlihat dan menciptakan ruang di mana kita dapat mendefinisikan ulang perspektif perempuan dalam musik."
Dengan inisiatif ini, yang terbuka untuk perempuan usia 18-35 tahun, Tems memilih untuk memulai di Lagos, tetapi ambisinya tidak berhenti di situ. "Kami pasti akan membawa ini ke luar Nigeria. Bahkan, kami akan ke Kenya selanjutnya," ujarnya. "Ada perempuan di mana-mana yang hanya perlu merasa diperhatikan. Yang mereka butuhkan hanyalah platform itu, yang mereka butuhkan hanyalah kesempatan itu, dan saya sangat yakin ini pasti akan mengubah bentuk industri musik."
Acara peluncuran di Lagos menarik perhatian puluhan perempuan muda yang antusias — penyanyi, produser, dan teknisi. "Sungguh menakjubkan betapa banyak orang yang datang dan mendukung kami, bahkan betapa banyaknya bakat yang kami miliki," ujar Tems di acara tersebut. "Sejujurnya, saya sangat terkesan dan tak sabar menantikannya. Ini adalah perjalanan yang kita semua jalani bersama, dan saya tidak menemukan cara yang lebih baik untuk memulainya."
Visinya untuk Leading Vibe sangat personal. Ia ingat bagaimana ia harus berpindah dari satu studio ke studio lain, mencoba mencari sekutu di industri yang didominasi pria. Para gatekeeper baru mulai memperhatikan ketika musiknya mencapai apa yang tidak bisa mereka capai. "Orang-orang mulai menganggap saya serius ketika musik saya mencapai titik yang tak terbayangkan," ujarnya. "Mereka bertanya-tanya, bagaimana dia bisa melakukan itu? Kami tidak memberinya kesempatan ini."
"Ketenaran bukanlah yang kau inginkan," pikir Tems. "Kau bisa terkenal namun tak nyaman, terkenal namun tak sukses. Yang kau inginkan sebenarnya adalah merasa nyaman, kau ingin mampu menafkahi diri sendiri, dan ketenaran tak selalu seperti itu."
“Jadi, menurut saya sangat penting bagi Anda untuk mendefinisikan siapa diri Anda, karena jika tidak, orang lain akan melakukannya,” tambahnya.
Dengan membangun gerakan bagi wanita di seluruh Afrika dan sekitarnya, warisan Tems yang paling signifikan mungkin bukan musik yang ia ciptakan, tetapi pintu yang ia buka bagi orang lain.

Post a Comment