Douglas, Arizona
—
Di usia 20 tahun, perempuan muda itu sedang berjuang. Ia baru saja melahirkan dan harus membayar biaya kuliah, sewa rumah, dan susu formula bayi. Sebagai seorang ibu tunggal di Phoenix, ia berusaha memenuhi kebutuhan dan membangun masa depan, sambil menempuh pendidikan untuk gelar psikologinya.
"Hal itu menjadi begitu berat sampai-sampai Anda tidak bisa meminta bantuan seseorang," ujarnya kepada CNN.
Lalu suatu malam, sebuah postingan Snapchat tampaknya menawarkan jalan keluar: "5-10 ribu dalam sehari menurutku."
Putus asa, dia menggeser ke atas.
Saya bilang, 'Ini untuk apa? Apa yang kalian lakukan?' Dan mereka menjelaskan, 'Kalian akan menjemput orang.' Saya malah balik bertanya, 'Orang-orang? Apa mereka butuh tumpangan? Ada apa?'”
Ia tak sempat mendesak untuk detailnya. Ia tidak punya mobil atau bahkan SIM, jadi ia yakin ia tak sanggup melakukan pekerjaan itu. Tapi ia tak bisa berhenti memikirkan uang. Seminggu kemudian ia mendapat ide lain: Temannya punya mobil dan bisa menyetir. Bisakah mereka membagi uangnya?
"Ya, kami tetap akan membayar," jawabnya.
Dia tidak berhenti untuk berpikir panjang tentang bahayanya atau apakah tawaran itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan — atau sah.
Temannya pergi ke selatan, menjemput sekelompok migran di dekat perbatasan, lalu berkendara kembali. Malam harinya, seorang pria menyerahkan segepok uang tunai kepada perempuan muda itu.
Ia kini terlibat dalam penyelundupan migran, direkrut oleh perekrut kartel Meksiko melalui media sosial. Meskipun beroperasi sepenuhnya di Amerika Serikat, ia memperluas jangkauan geng lintas batas yang meraup keuntungan dari perdagangan manusia dan narkoba.
CNN telah menghabiskan waktu enam bulan untuk menyelidiki bagaimana kartel merekrut, bagaimana orang-orang terjerat dan bagaimana penegak hukum menangani masalah yang, sekilas, tampak sepele seperti seorang pemuda berlisensi yang berkendara melewati padang pasir.

Post a Comment